Mengenal Twitcher
Rabu, November 15, 2006 at 12:58 pm | In Article | 2 Comments
TWITCHER. Istilah ini muncul di salah satu posting pendobos burung. Dalam posting itu Sir Ndobos bercerita tentang aksi para twitcher Inggris mengejar Long-billed Murrelet (Brachyramphus perdix) di Dawlish, Devon.
Anda tahu yang dimaksud dengan “twitcher”? Sir Ndobos menyebutnya sebagai “kelompok gila liat burung.” Menurut Sir Ndobos, kelompok ini betul-betul sinting, ekstrim malah. Di mana saja ada burung yang “langka” langsung dikejar.
Jika birdwatcher biasa berbekal hanya teropong dan buku panduan pengenalan burung, kelompok ini masih ditambah dengan beeper (pager), hp dan kadang laptop yang terhubung dengan pusat pencatat burung langka. Pusat pencatat ini tidak memberikan akses cuma-cuma, harus berlangganan, bayar. Tidak jarang kendaraan para “twitcher” juga dilengkapi dengan peta berpemandu GPS (Global Positioning System) agar para “twitcher” bisa memilih jalan tersingkat menuju lokasi.
“Twitching” sesungguhnya istilah khas orang Inggris untuk menyebut suatu kegiatan intensif, yakni mengejar [untuk melihat] burung, terutama yang sudah langka atau jarang terlihat. Orang Amerika menyebutnya dengan istilah “chasing.” Nah, orang yang getol mengejar burung langka itu disebut “twitcher”.
Situs ini memberi penjelasan :
The British term is said to come from the frenzy that descends on some when they receive news of a rare bird. The term may derive from one of its first proponents, who used to arrive on his motorbike in freezing weather in the early 1960s, still “twitching” from the cold. The end goal of twitching is often to accumulate species on one’s lists. Some birders engage in competition with one another to accumulate the biggest species lists. The act of the pursuit itself is referred to as a “twitch” or a “chase”. A rare bird that stays put long enough for people to come see it is called “twitchable” or “chaseable”.
Kegiatan mengejar burung langka (twitching) lebih berkembang di negara-negara seperti Inggris, Belanda, dan Irlandia karena relatif kecilnya wilayah negara tersebut yang memungkinkan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu singkat. Kegiatan ini juga populer di Finlandia dan Swedia.
Twitching kurang dikenal di Indonesia karena luasnya wilayah dan kondisi geografis yang terpisah oleh pulau-pulau. Bayangkan, misalnya, suatu ketika ada orang melihat trulek Jawa (Vanellus macropterus) di Lumajang, Jawa Timur, lalu para twitchers Makassar, Sulawesi Selatan, berminat mengejarnya. Butuh waktu berapa lama mereka akan sampai ke lokasi? Naik pesawat? Mahal! Padahal tidak semua pengamat burung di Indonesia berasal dari kelompok yang secara ekonomi berkecukupan.
Nah, di Inggris dan sekitarnya itu, kegiatan mengejar burung lebih mudah dilakukan karena bisa ditempuh lewat jalan darat dalam tempo relatif singkat. Sir Ndobos bercerita, twitching yang diikutinya menempuh perjalanan 4 jam. Tak heran bila rekor jumlah peserta tertinggi kegiatan mengejar burung langka di Inggris melibatkan lebih lima ribu orang, yaitu ketika para twitchers mengamati Golden-winged Warbler (Vermivora chrysoptera) di Kent.
Ada Apa dengan Burung
Selasa, Oktober 31, 2006 at 2:56 pm | In Article, Bird, Birdwatching | 3 Comments
Ada apa dengan burung? Mengapa kita mengamati burung?
Dua pertanyaan itu kerap dilontarkan orang-orang kepada para ilmuwan dan pengamat burung. Pertanyaan lumrah bagi mereka yang nyaris tak pernah memperhatikan dengan saksama apa sebenarnya burung itu dan arti pentingnya dalam hidup ini.
Pernahkah Anda melihat, memperhatikan burung yang sedang terbang di angkasa dan bertanya-tanya itu burung apa? Lalu Anda mengamati — melihat warna, bentuk, dan bentangan sayapnya. Anda mengingat betul setiap bagian, senti demi senti sampai burung itu menghilang di balik mega atau pepohonan.
Anda penasaran.
Anda lalu bertanya kepada keluarga atau teman yang mungkin tahu apa nama burung yang tadi Anda lihat. Mungkin juga Anda ke perpustakaan untuk membaca buku tentang burung dan mencari gambar foto yang cocok dengan burung yang Anda lihat. Bisa jadi juga Anda cuma berharap bisa melihatnya lagi untuk menikmati keindahan dan kemerduan kicauannya. Itulah pengamatan burung. Dan Anda sudah menjadi pengamat burung, Wah, gampang benar ya?
Memang. Mengamati burung itu aktivitas alamiah kita sebagai manusia. Nenek moyang kita dulu juga mengamati burung — Anda dapat menemukan bukti-buktinya pada lukisan yang mereka buat di dinding-dinding gua.
Burung dapat menjadi pertanda sebuah musim dan meramalkan cuaca. Burung-burung bahkan menyediakan dagingnya sebagai menu santap malam kita yang lezat. Hayo, siapa yang pernah menikmati renyahnya burung dara goreng di Malioboro?
Dewasa ini, pengamatan burung menjadi hobi miliaran jutaan orang [mungkin lebih] di seluruh dunia. Dan setiap hari semakin banyak saja orang yang menjadikan pengamatan burung sebagai hobi. Mengapa? Karena burung itu makhluk yang menyenangkan untuk dilihat. Cantik karena suara atau bulunya. Tingkah burung pun enak dipandang.
Semakin jauh Anda mengenal burung, niscaya akan semakin besar rasa penasaran itu. Anda pasti akan tertarik mengenal lebih jauh tentang burung dan pengamatan burung. Benarkah? Sampai jumpa di posting berikutnya.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.